Absolute music vs Program Music
“Absolute music” mengacu pada musik yang tidak bermakna apapun dan non-representational. “Program music”, merupakan lawannya, yaitu dimaksudkan untuk membangkitkan ide di luar musik di luar musik ke dalam pikiran pendengar yang merepresentasikan adegan, gambar, atau perasaan. Karena absolute music tidak memiliki makna apapun, makna tersebut jadi diturunkan dari esensi musik itu sendiri. Perdebatan selama ini muncul apakah absolute music dapat benar-benar ada dan apakah setiap musik diciptakan oleh alam untuk memiliki maksud atau tidak.
Terdapat debat yang intens tentang masalah ini selama era romantic akhir, dimana mayoritas menolak musik berbasis instrumental yang absolute. Penentang tersebut berasal dari Richard Wagner, Friedrich Nietzche dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Karya Wagner mengatur programmatic dan sering menggunakan vokalisasi, dan ia menambahkan bahwa “dimana musik tidak mampu melaju lebih jauh, mereka menjadi kata. Kata berposisi lebih tinggi daripada nada.” Nietzche menulis banyak komentar pujian terhadap musik Wagner dan faktanya ia sendiri adalah komposer amatir.
Filsuf romantic yang mendukung absolute music muncul dari Johann von Goethe yang melihat musik bukanlah sebagai subjek bahasa manusia melainkan sebagai keabsolutan sejati yang berarti terlihat lebih tinggi daripada urutan kenyataan dan keindahan. Beberapa filsuf lainnya juga menghubungkan musik dengan unsur spiritualisme. Pada bagian IV dari karya The World as Will and Representation (1819), Arthur Schopenhauer menulis bahwa “musik adalah jawaban dari misteri kehidupan. Kebanyakan tersusun dari segala seni, musik mengekspresikan pemikiran terdalam dari hidup.” Pada The Immediate Stages of Erotic, or Musical Eroticm bagian dari Either/Or (1843), Soren Kierkegaard memeriksa kedalaman dari musik Wolfgang Amadeus Mozart Mozart dan unsur sensual dari Don Geovanni.
- See more at: http://www.bglconline.com/2013/02/filosofi-musik/#sthash.mycCXOrP.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar