Makna dan Tujuan
Saat ini masih terdapat banyak debat mengenai bagaimana memaknai suatu musik. Tentu saja, musik dapat diinterpretasikan dengan berbagai cara oleh berbagai pendengar, tetapi terdapat banyak karakter emosional yang muncul secara universal pada musik. Orang-orang mungkin menghubungkan suara tertentu dengan emosi tertentu berdasarkan kondisi alamiah, tetapi beberapa tipe suara yang fundamental mungkin memiliki kenyamanan dan ketidaknyamanan yang alami juga.
Sebagai contoh, kajian yang menunjukkan bahwa suara rendah berlatarbelakang noise cenderung untuk menenangkan dan melemaskan (kemungkinan karena suara tersebut serupa dengan suara di dalam kandungan) dimana suara tinggi dan tempo tinggi digunakan untuk menunjukkan kegembiraan. Pertanyaan utama disini seberapa besar anggapan tersebut yang datang secara langsung dari musik dan seberapa besar juga yang datang dari pengaruh budaya? Ilmu neurobiology, evolutionary psychology, dan bidang ethnomusicology perlahan menemukan kemajuan untuk menjawab hal ini dan pertanyaan terkait.
Upaya pertama untuk menempatkan musik pada framework evolusi dibuat oleh Charles Darwin yang berkata pada 1871 di bukunya berjudul The Descent of Man, “nada musik dan ritme pertama kali digunakan oleh laki-laki dan perempuan untuk tujuan memesona lawan jenisnya.” Saat ini terdapat penelitian aktif mengenai evolusi dari musik, dan beberapa bukti ditemukan untuk mendukung hipotesis Darwin, dan buktinya lainnya menyarankan bahwa musik bermakna sebagai organisasi sosial dan komunikasi untuk budaya masyarakat jaman purba. Pada tahun 1997 di buku How the Mind Works, Pinker meragukan musik sebagai “auditory cheesecake“, sebuah frase yang bertahun-tahun digunakan untuk menantang musikologi dan psikologi yang mempercayai bahwa musik merupakan keindahan bagi unsur auditori.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar